Rabu, 09 Maret 2011

Beda jenis, beda manfaatnya


Jenis teh bisa dikategorikan berdasarkan cara pembuatannya. Sebab, dari beragam variasi yang ada, semua berasal dari pohon bernama Camelia Sinensis. Berdasarkan teknologi pembuatannya, kita bisa melihat perbedaan manfaatnya.

Teh Hijau
Dibuat dengan cara mengukus daun teh mentah, segera setelah dipetik. Pemrosesan dihentikan saat daun teh sudah mengalami oksidasi minimal. Kandungan EGCG-nya tinggi dan terbukti dapat mengurangi risiko kanker kandung kemih, payudara, paru-paru, lambung, pankreas, dan usus besar. Juga bermanfaat untuk menurunkan kolesterol yang menyumbat pembuluh darah. Bagi warga senior, kabar baiknya adalah teh hijau dapat melawan stres oksidatif pada otak, sehingga risiko Alzheimer, stroke, dan parkinson berkurang.

Teh Hitam
Dibuat melalui proses fermentasi yang memakan waktu 2 minggu hingga 1 bulan. Merupakan bahan baku teh jenis lainnya, seperti jasmine tea dan teh instan. Teh hitam sangat tinggi kandungan kafeinnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa teh hitam mampu mengurangi efek buruk merokok pada paru-paru, serta menurunkan risiko stroke.

Teh Putih
Dibuat dari pucuk daun teh yang tak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Teh ini memiliki sifat anti-kanker paling kuat dibandingkan jenis teh lainnya.

Teh Oolong
Proses oksidasi teh ini biasanya memakan waktu 2-3 hari. Teh Oolong jenis Wuyi dipromosikan dapat menurunkan berat badan. Sayangnya, promosi ini belum didukung bukti ilmiah. Dalam suatu penelitian disebutkan, antioksidan teh Oolong ternyata mampu menurunkan kadar LDL (kolesterol jahat).

Teh Pu-erh
Ada 2 macam teh Pu-erh, yang mentah dan matang. Pu-erh mentah, bisa langsung diolah atau disimpan selama bertahun-tahun. Sedangkan Pu-erh matang, diproses dengan mengontrol kelembaban daun (seperti membuat kompos). Pu-erh termasuk golongan teh hitam. Banyak dijual dalam bentuk kepingan padat. Teh Pu-erh sudah terbukti mampu menurunkan berat badan dan kadar LDL.

Dari proses pembuatannya, dapat disimpulkan bahwa semakin lama proses fermentasi daun teh, semakin berkurang kadar polifenolnya. Sehingga, teh hitam dan teh Oolong ada di urutan terbawah, alias merupakan jenis teh yang paling sedikit mengandung polifenol.

Teh Herbal
Berbeda dengan teh jenis lain, teh herbal tidak terbuat dari hanya daun teh. Melainkan juga dicampur dengan buah, biji, dan akar tertentu (sesuai tujuan manfaatnya). Kandungan antioksidannya lebih rendah ketimbang teh hijau, putih, atau Oolong. Efek kesehatan teh herbal bermacam-macam. Contohnya teh chamomile yang dikatakan bisa mencegah komplikasi akibat diabetes, kerusakan saraf dan ginjal, serta melawan sel kanker.

sumber :http://23teaparty.blogspot.com/2010/08/beda-jenis-beda-manfaatnya.html

Selasa, 08 Maret 2011

Kakao Turunkan Hipertensi


Kabarnya kakao yang banyak diolah menjadi cokelat batangan mampu menyehatkan jantung dan menguatkan tulang. Selain itu, cokelat juga banyak dipakai sebagai bahan untuk perawatan tubuh guna menghaluskan kulit, memperkuat kuku, dan melembutkan rambut. Tak sedikit pula wanita percaya bahwa makanan ini bisa menjadi solusi praktis untuk menghilangkan stres.

Riset membuktikan, tumbuhan kakao mengandung sejenis zat flavanol yang disebut epicathechins, yang berfungsi mendorong dinding arteri untuk relaks. Ini berefek baik bagi fungsi pembuluh darah di tubuh.

Riset tentang ini pernah dilakukan oleh Norman Hollenberg, profesor kedokteran di Harvard University. Ia membandingkan konsumsi produk batangan cokelat-susu dan dark chocolate. Orang yang mengonsumsi pilihan kedua memperlihatkan kadar nitric oxide yang tinggi di darahnya.

"Nitric acid bertanggung jawab membuat pembuluh darah relaks dan terbuka sehingga aliran darah lancar dan tekanannya pun menurun," ujar Riani Susanto, ND, CT, pakar naturopati dan certified reconnective healing practitioner dari Klinik Harmony Zone.

Meski penelitian akan hal ini masih terus dilakukan, para ahli mengatakan, tidak ada salahnya bila penderita hipertensi turut mengonsumsi kakao dalam bentuk bubuk atau dark chocolate, di samping minum obat penurun tekanan darah. Takaran yang dianjurkan adalah 450 mg flavanol, yakni setara dengan dua cangkir susu cokelat kakao hangat per hari.

"Mengonsumsi dark chocolate sebanyak 25 mg sama efektifnya dengan minum 81 mg aspirin," kata Riani.

sumber : Kompas.com

Senin, 07 Maret 2011

Perokok Pasif Terancam Tuli


Sedihnya menjadi perokok pasif, meski tidak menghisap rokok, tetapi mereka harus ikut kena getahnya. Selain berisiko gangguan paru dan pernapasan, indera pendengaran perokok pasif ikut terancam asap rokok yang dikepulkan oleh orang lain.
Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa perokok, baik yang sudah berhenti maupun masih merokok, berisiko mengalami gangguan pendengaran. Namun, tidak diketahui apakah perokok pasif ikut memiliki risiko yang sama.

Asap rokok yang terisap memiliki kandungan bahan kimia yang bisa mengganggu sirkulasi darah di pembuluh darah kecil di dalam telinga. Akibatnya, organ-organ tersebut kekurangan oksigen dan terbentuknya sisa-sisa toksik sehingga telinga rusak. Kerusakan akibat paparan asap rokok ini berbeda dengan yang disebabkan oleh paparan suara bising atau penuaan.

Dalam sebuah riset, para peneliti dari Universitas Miami dan Florida International University melakukan analisis hasil tes pendengaran terhadap 3.307 orang bukan perokok, yakni para mantan perokok dan orang yang tidak pernah merokok sama sekali.

Selain dilakukan tes pendengaran, para ahli juga melakukan tes darah untuk mengetahui kadar nikotin yang disebut cotinine, yang dibentuk tubuh ketika kontak dengan asap rokok.

Hasilnya, perokok pasif memiliki gangguan pendengaran yang lebih buruk dibanding orang yang tidak terpapar. Gangguan pendengaran ini terutama mereka tidak bisa menangkap pembicaraan yang dilakukan di lingkungan yang agak berisik. Bukan hanya itu, perokok pasif juga terancam mengalami tuli berdasarkan pemeriksaan seluruh frekuensi suara.

"Kami belum tahu batasan asap rokok yang aman agar terhindar dari risiko gangguan telinga. Namun, yang paling aman adalah tidak terpapar sama sekali," kata Dr David Fabry, peneliti.

Itu sebabnya, sebelum menyalakan rokok Anda, perhatikan dulu apakah dampaknya bagi orang lain di sekitar Anda yang terpaksa ikut "menelan" asap rokok yang dikepulkan.

referensi :

Bagi non-perokok, apabila kamu berada di tempat umum (tempat yang dilarang merokok) menjumpai orang lain di dekatmu sedang merokok dan kamu merasa terganggu dengan asapnya, ingatkan saja orang tersebut untuk mematikan rokoknya atau pindah di tempat lain yang tidak ada orang di sekitarnya. Tidak perlu ragu. Itu hak kamu.

Kedelai, Solusi Darah Tinggi


Bermasalah dengan tekanan darah yang selalu tinggi? Jika iya. Bersahabatlah dengan kedelai.

Mengapa? Karena jantung kita sangat membutuhkan kedelai. Berdasarkan laporan ilmuwan dari Tulane University, kedelai tidak hanya akan mengurangi kadar kolesterol, tapi banyaknya asupan protein yang didapat dari kedelai mampu menurunkan tekan darah kita juga.

Dalam penelitian mereka terhadap 302 orang dewasa dengan tekanan darah tinggi, diberikan tambahan kue pada menu diet harian mereka. Setengah dari relawan mendapatkan kue dengan 40 gr protein kedelai, dan sisanya mendapatkan kue yang terbuat dari gandum. Setelah diteliti selama 4 bulan, kelompok kedelai mengalami penurunan tekan darah sampai 4 poin, sedangkan pada kelompok gandum masih tetap berada pada angka yang sama.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kedelai dapat membantu tubuh kita untuk menyediakan asam amino yang bisa memperbesar pembuluh darah, jelas Jiang He, MD, peneliti. Saatnya membuat tekanan darah tetap “bersahabat” dengan mengonsumsi makanan dari kedelai, seperti tofu, susu kedelai, dan kacang edamame.
sumber :(Astrid Anastasia,preventionindonesia.com)

Minggu, 06 Maret 2011

Menilik Risiko Penyakit dari Jari Tangan

Kini ada cara mudah untuk mengetahui risiko penyakit yang mungkin akan diderita. Bukan melalui cek laboratorium atau menelusuri riwayat kesehatan, tapi sesederhana melihat jari-jari tangan, terutama jari telunjuk dan jari manis.

Mungkin metode ini terdengar tidak masuk akal, tapi beberapa penelitian makin banyak dilakukan untuk mendukung metode ini. Yang terbaru adalah studi yang dimuat dalam British Journal of Cancer yang menyimpulkan bahwa ukuran jari telunjuk yang lebih panjang dari jari tangan lainnya lebih rendah risikonya untuk terkena kanker prostat.

Teorinya begini, panjang jari-jari tangan ditentukan sejak janin di dalam kandungan dan dipengaruhi oleh paparan hormon estrogen dan testosteron. Hormon seks pria, testosteron, memengaruhi panjang jari manis dan hormon estrogen memengaruhi panjang jari telunjuk.

Sebelum mengetahui risiko penyakit lain, pertama amati jari tangan Anda untuk melihat panjang jari telunjuk dan jari manis.


Jika jari manis lebih panjang dari telunjuk:

Anda berisiko mengalami penyakit:
- Osteoarthritis. Peneliti dari Universitas Nottingham menemukan orang yang jari manisnya lebih panjang dari jari telunjuk beresiko dua kali lipat menderita osteoarthirits di bagian lututnya. Tim peneliti menyimpulkan hal itu setelah mengukur jari-jari 2.000 orang

- Anoreksia. Walau belum disimpulkan, tapi menurut John Manning, ahli biologi, ada bukti-bukti bahwa orang yang menderita anoreksia biasanya punya ukuran jari manis yang panjang.

- Flu. Dalam penelitian yang dilakukan Manning terhadap 200 orang di Liverpool ditemukan orang yang jari manisnya panjang cenderung lebih mudah terkena flu. "Hormon testosteron berpengaruh pada sistem imun tubuh sehingga seseorang lebih mudah terpapar infeksi," katanya.

- Autisme. Beberapa penelitian menunjukkan orang dalam kelompok jari manis panjang beresiko lebih tinggi menderita autisme atau ADHD.

- Kabar baiknya, orang yang jari manisnya panjang cenderung tidak merokok. "Ini karena hormon testosteron berkaitan dengan tipe orang yang ekstrovert. Sementara itu kebiasaan merokok biasanya dilakukan orang yang introvert," kata Manning.


Jika jari telunjuk lebih panjang dari jari manis:

Anda beresiko terkena penyakit:
- Kanker payudara atau serviks: Wanita berusia 35-75 tahun yang menderita kanker payudara biasanya memiliki ukuran jari telunjuk lebih panjang. Para peneliti menduga hal itu terkait dengan paparan estrogen di dalam kandungan. Hormon itu diketahui terkait dengan perkembangan kanker payudara.

- Penyakit jantung: "Makin panjang ukuran jari manis, makin rendah risiko Anda terkena serangan jantung di usia muda," kata Manning. Ia berpendapat hormon testosteron bermanfaat untuk melindungi jantung.

- Bulimia. "Kaum wanita lebih sering menderita bulimia dibanding pria dan fakta bahwa ukuran jari telunjuk yang panjang terkait bulimia makin menunjukkan bahwa hal ini berhubungan dengan paparan estrogen dalam kandungan," katanya.

- Asma dan alergi.

sumber :

Kamis, 03 Maret 2011

Bahaya Sisha Sama Dengan Rokok


LONDON-- Siapa bilang mengisap shisha tidak berbahaya? Penelitian yang dilakukan kolaborasi Departemen Kesehatan dan Pusat Kontrol Tembakau di Inggris menemukan fakta yang menyebutkan mengisap Shisha sama berbahayanya dengan mengisap rokok tembakau.

Menurut hasil penelitian, seperti dikutip dari BBC, Kamis (27/8) waktu setempat, masyarakat yang mengisap rokok shisha atau tembakau herbal akan beresiko mengalami peningkatan kadar karbon monoksida dalam tubuh. Hal itu disebabkan, dalam satu sesi mengisap rokok shisha memiliki kecenderungan 4-5 kali lebih tinggi kandungan karbon monoksida dalam tubuh ketimbang saat mengisap rokok tembakau. Tingginya kadar kabon monoksida ini nantinya berpotensi menyebabkan kerusakan otak dan kondisi tidak sadar.

Shisa merupakan rokok tradisional jazirah timur tengah, yang menggunakan ektrak buah pengganti tembakau yang dibakar menggunakan batu bara. Prosesnya lantas menggunakan air sebagai filter hingga meminimalisir kadar nikotin yang masuk ke tubuh.

Departemen Kesehatan Inggris mengatakan, begitu sulit untuk mengetahui seberapa besar karbon monoksida yang diproduksi dari sebatang rokok hingga dapat dibedakan dengan merokok tembakau biasa.

Akan tetapi alat pengukur kadar karbon monoksida dalam tarikan nafas menunjukan untuk non perokok kadar monoksida dalam darah hanya berkisar kurang dari 1% , perokok pasif memiliki kadar monoksida dalam darah berkisar antara 20-40 ppm atau 2-4% dan untuk perokok berat, kadar monoksida dalam darah bisa mencapai 30-40 ppm, atau 5-7%. Sementara menurut hasil penelitian, para perokok shisa memiliki kadar karbon monoksida dalam darah mencapai 40-70 ppm atau 8-12%.

Dr. Hilary Wareingm Direktur Pusat Kolaborasi Kontrol Tembakau mengatakan, dirinya begitu terkejut saat mendengar hasil penelitian."Mulut kita begitu terbuka terhadap level kerugian, tidak ada satupun penelitian yang menunjukan hasil mengejutkan daripada Shisha yang ternyata berbahaya bagi kesehatan, " tukasnya.

Sementara itu, Paul Hooper, Regional Manager, Depertemen Kesehatan Kerajaan Inggris menyatakan penemuan hasil penelitian yang menyimpulkan shisa berbahaya bagi kesehatan akan menjadi isu besar. Bahkan untuk Individu yang menganggap Shihsa bukanlah terhitung merokok

Tren

Sebelum penelitian dilakukan, Shisha merupakan favorit bagi warga keturunan arab yang tinggal di Inggris. Tidak hanya di Inggris, konsumsi Shisha juga menjadi tren di negara-negara lain termasuk juga Indonesia. Setiap akhir pekan, tempat-tempat yang menawarkan Shisha praktis dipenuhi pengunjung.

Namun, usai sosialisasi hasil penelitian dilakukan, sejumlah warga Inggris mengaku terkejut. "Bila anda belum tahu tentang berita ini, tentu sangat berbahaya, jangan lakukan itu. Shisha tidak memiliki peringatan berbahaya seperti yang diberikan pada rokok," ujar salah seorang perempuan muda.

Sementara itu, pemuda keturunan Pakistan juga merasa terkejut. Dia tidak menyangka, konsumsi Shisha begitu berbahaya." Jika ibu saya tahu, saya mengisap Shisha. Dia secara serius tidak akan mengizinkan saya mengisapnya, sama halnya saya dilarang merokok tembakau," tutur si pemuda.

Kesalahan utama dari konsumsi Shisha adalah miskonsepsi. Sebelum dilakukan penelitian, mengisap Shisha tidaklah berbahaya. Namun, fakta-fakta yang ditemukan dalam penelitian mengubah itu semua. "Kami menemukan fakta dimana satu sesi Shisha - menghabiskan 10 mg ektrak buah tembakau untuk 30 menit- dapat meningkatkan kadar karbon monoksida 4-5 kali ketimbang merokok," tutur Wareing.Yang lebih buruk, ujarnya, menghisap Shisha 400-450 kali bisa membahayakan kesehatan ketimbang merokok tembakau.

Pro-Kontra

Beberapa kalangan di Inggris mengaku memilih berpikir dua kali untuk menghisap Shisha usai mengetahui hasil penelitian tentang Shisha. "Anda tahu, anda bisa mati karena merokok, tapi anda tidak pernah tahu anda akan mati karena Shisa," ujar salah satu perokok Shisha di Sebuah Kafe khusus Shisa di London. Untuk memperjelas temuan tersebut, dia memilih untuk segera ke rumah dan mencari tahu.

Meski begitu, tidak semua warga di Inggris memiliki pandangan yang sama terkait hasil penelitian tentang Shisha. Akram misalnya, pemuda berusia 27 tahun ini memiliki pandangan berbeda. "Memang semua ada resikonya, tapi semua tergantung saat mengkonsumsi, dan fakta-fakta yang dapat saya lihat menyimpulkan bahwa merokok Shisa tidak sama dengan merokok biasa," tukasnya.

Pendapat lain juga diungkapkan Aktivis Kesehatan NHS Stop Smoking di Leicester, Qasim Choudry. Menurutnya, berbagi pipa hisap Shisha diyakini menyebabkan infeksi. "Begitu banyak resiko penyebab TBC, Hepes dan infeksi lain sebagai akibat berbagai pipa Shisha," ujarnya.

Dia juga menjelaskan, perkembangan flu babi yang menjadi perbincangan hangat saat ini mungkin tidak memiliki hubungan langsung. Akan tetapi dia meramalkan bila gaya hidup masyarakat tidak higienis termasuk berbagi pipa hisap Shisha akan memungkinkan flu babi menjadi bagian dari akibat buruk menghisap Shisha.

Meski begitu, Dr Warein merasa lebih tepat apabila masyarakat sendiri yang memilih untuk mencerna informasi terkait bahaya Shisha. Pendapat yang sama juga disampaikan Paul Hooper dari Departemen Kerajaan Inggris. Dia menyatakan hingga saat ini pihaknya berupaya keras untuk mencari cara bagaimana memberikan pesan yang tepat kepada masyarakat bahwa mengisap shisa itu berbahaya. "Tapi pertanyaanya, apakah anda akan memberikan label pada tembakau dan pipa hisap Shisha?itu tidak semudah memberikan label dari sebungkus rokok," pungkasnya.

sumber :Republika Online

Orang Minang Paling Berisiko Dislipidemia


Ragam masakan Masyarakat Minangkabau yang banyak berbahan santan dan daging membuat asupan lemak jenuh mereka lebih tinggi dibanding suku-suku lain di Indonesia.

Hal itu terungkap lewat penelitian tahun 2007 yang dilakukan dr Ratna Djuwita dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia melakukan riset mengenai asupan nutrien pada empat suku, yakni Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Bugis.

"Rata-rata asupan lemak orang Indonesia sudah memenuhi pedoman gizi, tetapi kualitasnya masih buruk karena lebih banyak lemak jenuhnya," katanya dalam acara seminar bertajuk "Pentingnya Lemak Esensial dan Manfaatnya untuk Tubuh" di Jakarta, Sabtu (12/2/2011).

Rasio asupan lemak yang sehat, kata Ratna, adalah satu banding satu antara asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SAFA), asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid/PUFA), asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/MUFA). Dalam kombinasi yang tepat yakni 1:1:1, asupan makanan relatif akan lebih menyehatkan.

"Dari total 30 persen lemak yang harus kita konsumsi tiap hari, sebaiknya SAFA tidak lebih dari 10 persen dan 20 persen, lemak tak jenuh yang terdiri dari PUFA 6-10 persen, dan MUFA 10 persen," katanya.

Kelebihan SAFA akan meningkatkan berbagai risiko kesehatan yang dipicu oleh dislipidemia. Dislipidemia adalah gangguan kesehatan akibat kelainan lemak dalam darah. Pada dislipidemia, kadar lemak-lemak jahat seperti kolesterol LDL dan trigliserida mengalami peningkatan. Sebaliknya kadar lemak yang baik, yaitu kolesterol HDL, justru mengalami penurunan.

"Orang Minang tingkat dislipidemianya lebih tinggi dibanding 3 suku lainnya," kata Ratna.

Dari penelitian terungkap, asupan SAFA orang Minang berasal dari santan, minyak goreng, daging, telur, dan daging unggas. "Orang Jawa dan Sunda suka makan santan juga, tetapi tidak sekental masakan Minang. Selain itu, pola makanan Jawa dan Sunda banyak sayuran, tahu, dan tempe," kata dosen dari Ilmu Gizi FKUI ini.

Hasil penelitian Ratna tersebut sama dengan RISKESDAS tahun 2007 yang menemukan rasio asupan lemak jenuh dan tidak jenuh orang Indonesia belum seimbang. "Rasionya masih kurang dari 1, terbanyak masih SAFA," imbuhnya.

sumber : http://betterdayzine.blogspot.com/